
Menjadi tumpuan atau tulang punggung keluarga di usia muda menuntut kedewasaan finansial yang tinggi. Sering kali, mengandalkan satu sumber penghasilan saja tidak cukup untuk menopang kebutuhan tak terduga. Fenomena mengambil pekerjaan sampingan (side hustle) kini bukan lagi sekadar tren, melainkan strategi nyata untuk bertahan dan mengamankan masa depan.
Hal ini dirasakan langsung oleh Mazmurel Jonas Victory, 26 tahun. Di balik kesehariannya sebagai karyawan swasta di Bali, Jonas juga melakoni pekerjaan sebagai pengantar makanan online. Dua pekerjaan ini ia jalani dengan penuh komitmen demi mengantisipasi momen-momen terjepit antara kebutuhan mendesak dan keterbatasan dana tunai.
Momen kritis itu benar-benar datang ketika rumah orang tuanya mengalami kerusakan struktural mendadak. Di sinilah Jonas berhasil menavigasi krisis tersebut dengan memanfaatkan solusi dana cepat yang aman dari Adapundi.h momen ia mencari solusi dana cepat, dan pilihan itu jatuh ke Adapundi.
Setelah lulus S1 Manajemen dari UPN Veteran Jawa Timur pada 2022, perjalanan Jonas tidak langsung mulus.
"Kalau sebelumnya nggak langsung dapat kerjaan sih, habis lulus dulu jadi serabutan ngojek segala macam, barulah dapat kerjaan resmi saya yang sekarang" kenangnya.
Ketekunannya membuahkan hasil. Awal 2023 ia diterima di anak perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Setelah jam kantor usai, ia langsung bersiap mengantar makanan online untuk memaksimalkan arus kas bulanannya.
Jonas tergolong hemat dan terencana. Kos sederhana, pengeluaran ketat untuk kebutuhan pokok, dan kontrol diri yang kuat terhadap keinginan sesaat.
"Bisa dibilang aku hemat sih, karena aku gampang nyesel kalau tiba-tiba nurutin keinginan. Padahal setelah kebeli sebenarnya ga butuh," ujarnya.
Kedisiplinan Jonas diuji pada akhir tahun 2024 ketika rumah keluarganya membutuhkan biaya renovasi rumah dalam jumlah besar. Sebagai anak tunggal, Jonas merasa bertanggung jawab penuh untuk membantu orang tuanya.
Namun, tabungan dari gaji bulanan dan hasil ojek online-nya tidak mampu menutup seluruh biaya material dan tukang sekaligus. Setelah menimbang berbagai alternatif, Jonas melihat pinjaman daring (pindar) sebagai opsi rasional yang paling realistis.
"Aku memutuskan untuk milih pinjam daring karena setelah mempertimbangkan segala macam opsi, kebutuhannya ini, opsiku cuma ini. Walaupun aku narik ojol pun kayaknya belum cukup. Kalau pinjam orang kan enggak semua mau minjemin," jelas Jonas.
Adapundi gelar CSR 2026 “Pundi Kebaikan Ramadan” dengan salurkan bantuan bagi anak difabel di Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Komitmen inklusivitas sosial
Adapundi dan Bank DBS Indonesia meresmikan kerja sama loan channeling fase 2 untuk memperluas akses pendanaan digital yang aman. Baca selengkapnya.
Simak cuplikan wawancara Adapundi di CNBC mengenai tren penggunaan AI dalam industri fintech dan dampaknya bagi layanan keuangan. Baca selengkapnya.
Memutuskan mengajukan pinjaman daring bukanlah keputusan instan bagi Jonas. Di tengah maraknya pemberitaan negatif mengenai pinjaman ilegal dan penagihan yang tidak beretika di media sosial, Jonas mengakui adanya rasa khawatir dan tekanan psikologis yang cukup besar sebelum berani mengajukan pinjaman.
"Iya pasti, karena kan yang sering kedengarkan cerita horror ketika gagal bayar ditagih DC... Iya. Tertekan, deg-degan," akunya secara jujur.
Namun, sebagai seorang sarjana manajemen, ia bisa mengontrol diri dengan baik, tidak terdorong impulsif dan kepanikan situasi rumah, ia melakukan riset mendalam (cross-check) dan kalkulasi matematis yang ketat.
"Aku bakal cari tahu ada nggak tiba-tiba si merek ini ada tiba-tiba masalah di belakang hari yang bisa ngerepotin atau gimana." jelasnya.
Tidak sampai situ, ia juga punya cara unik untuk memitigasi kecemasan sebelum meminjam.
"Aku hitung berkali-kali. Kalau aku pinjemnya nominal segini, tenornya berapa bulan segini, aku bener-bener hitung berkali-kali baru lah—oh fix lah, aku pinjemnya segini aja, tenornya segini, perbulan segini. Jadi itu memitigasi, dalam arti aku harus benar-benar yakin. Aku bakal bisa bayar nggak? Barulah deg-degannya berkurang." ungkapnya.

Setelah mencoba beberapa platform pinjaman, akhirnya Jonas menjatuhkan pilihannya kepada Adapundi. Ketika awal pendaftaran di akhir tahun 2024, Adapundi langsung memberikan kesan yang sangat baik dengan menawarkan batas limit awal tinggi, yang sesuai dengan estimasi kebutuhan dana darurat yang diharapkannya untuk dikirimkan ke orang tua.
Selain bisa mendapatkan limit awal yang tinggi, hal yang membuat Jonas senang dengan Adapundi adalah transparansi struktur biaya serta fleksibilitas durasi cicilan yang ditawarkan sejak awal penggunaan.
"Kelebihan, dari awal pakai saja sudah tersedia pilihan tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan. Bisa fleksibel dari awal... Yang aku bisa bilang cuma dari fleksibilitas," ungkapnya.
Dengan fleksibelitas yang diberikan Adapundi ini, Jonas pun merasa nyaman karena ia bisa menyesuaikan kemampuan bayar sebelum meminjam, kemampuan untuk memilih tenor yang sesuai dengan kondisi keuangan bulanannya. Maka tidak heran jika ia sudah 5 kali mengajukan pinjaman di Adapundi.
Selain dari segi finansial, Jonas juga sangat mengapresiasi kejelasan desain antarmuka (user interface) aplikasi Adapundi yang dinilainya jauh lebih ringkas dan fokus dibandingkan aplikasi lain yang navigasinya terlalu padat karena bercampur dengan fitur lain.
Sistem pengingat (reminder) jatuh tempo dari Adapundi yang dikirimkan via WhatsApp juga berjalan secara wajar, sopan, profesional, dan sama sekali tidak agresif atau mengganggu kenyamanan kerja harian Jonas.
Kisah Jonas adalah cerminan nyata dari tantangan finansial yang dihadapi banyak anak muda Indonesia: penghasilan yang cukup untuk hidup sehari-hari, tapi tidak selalu cukup untuk kebutuhan tak terduga yang datang bersamaan.
Teknologi finansial pada hakikatnya hadir untuk memberikan kebebasan, alternatif solusi, dan fleksibilitas finansial yang berharga saat kehidupan nyata menghadapkan kita pada situasi krisis yang tidak terduga. Melalui pengelolaan keuangan yang rasional, bertanggung jawab, dan pemilihan mitra fintech yang tepat seperti Adapundi, tantangan finansial seberat apa pun dapat dilewati.