Perjalanan bisnis tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar, bisa saja dari hal sederhana yang dekat dengan kita. Kisah inspiratif ini bisa kita lihat dari Bayu A (23 tahun), di usianya yang masih terbilang muda ia sudah menekuni berbagai bidang usaha.
Mulai dari mencoba dropship keripik, menjual cokelat, membeli makanan dalam jumlah besar lalu mengemas ulang, hingga berjualan gorengan saat SMA. Dari pengalaman kecil itu, Bayu belajar bahwa peluang usaha sering kali datang dari kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Semangat mencoba itulah yang kemudian membawanya membangun usaha kuliner berjualan seblak yang dijual melalui ojek online serta usaha bernama Rumbai Production, singkatan dari Rumah Bayu Production. Usaha ini menjual berbagai produk makanan seperti cireng isi pedas, cireng tanpa isi, acian, baso aci, hingga frozen food yang dipasarkan ke lingkungan kampus, acara komunitas, dan event-event tertentu.
Namun seperti banyaknya usaha, peluang sudah ada, pesanan mulai meningkat, tetapi modal belum cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi. Di sinilah Bayu melihat Adapundi sebagai salah satu solusi modal usaha yang dibutuhkan, dengan proses cepat dan tidak rumit.
Dunia usaha bukanlah hal baru bagi Bayu, sejak di bangku SMP ia sudah menjalankan aktivitas wirausaha dan terus menekuninya hingga hari ini, gagal juga sudah jadi suatu hal yang akrab baginya, tapi bukan jadi hal yang mematahkan semangatnya, ia terus mencoba dan melihat peluang baru.
“Sejak SMP udah tertarik sama dunia bisnis. Jadinya ya selalu nyoba-nyoba, gagal, terus coba buat yang baru,” cerita Bayu.
Sejak dulu, Bayu terbiasa mencoba berbagai peluang. Ia pernah menjual keripik, cokelat, makanan repack, hingga gorengan saat masih sekolah. Dari pengalaman sederhana itu, ia belajar bahwa bisnis sering kali dimulai dari keberanian mencoba dan memahami kebutuhan orang-orang di sekitar.
Kini, Bayu menjalankan beberapa usaha kuliner. Salah satunya adalah usaha seblak yang masih aktif berjalan secara online. Serta ia pun sedang merintis usaha lainnya, yang ia beri nama Rumbai Production (Rumah Bayu Production), usaha makanan ringan dan frozen food.
Bayu melihat peluang usaha ini setelah menemukan konsep jajanan cireng isi pedas yang ramai pembeli di luar Jakarta. Ia kemudian mencoba membawa konsep tersebut ke Jakarta, menyesuaikannya, lalu memasarkannya melalui jaringan kampus.
“Ternyata pada mesen banyak, dan mereka juga pada nge-resell-in lagi. Makanya dari situ akhirnya dibesarin terus ditambahin produk baru,” jelas Bayu.
Rumbai Production menyasar kebutuhan snack untuk acara kampus, event, dan konsumsi komunitas. Produk seperti cireng dan baso aci dinilai cocok karena praktis, mudah dipasarkan, dan dekat dengan selera anak muda.
Adapundi gelar CSR 2026 “Pundi Kebaikan Ramadan” dengan salurkan bantuan bagi anak difabel di Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Komitmen inklusivitas sosial
Adapundi dan Bank DBS Indonesia meresmikan kerja sama loan channeling fase 2 untuk memperluas akses pendanaan digital yang aman. Baca selengkapnya.
Simak cuplikan wawancara Adapundi di CNBC mengenai tren penggunaan AI dalam industri fintech dan dampaknya bagi layanan keuangan. Baca selengkapnya.
Di tengah tingginya minat terhadap usaha Rumbai Production, Bayu sadar jika usaha ini butuh dikembangkan lagi secara lebih luas.
Salah satu momen penting bagi Bayu adalah ketika ada event kampus besar dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Peluang tersebut membuat kebutuhan produksi meningkat.
“Di kampus saya ada event besar lumayan, pesertanya hampir seribu lebih,”.
Ia membutuhkan modal tambahan untuk stok bahan baku, alat produksi seperti gilingan dan penggorengan, hingga biaya pemasaran.
“Buat beli bahan, bikin banner, bikin iklan, terus bikin menu baru,” ujar Bayu.
Ia juga membutuhkan modal untuk membeli perlengkapan seperti alat penggorengan, cetakan, gilingan, serta bahan untuk proses trial and error.
“Alat-alatnya banyak juga lumayan yang harus dibeli,” tambahnya.
Dari sinilah Bayu melihat bahwa Adapundi adalah salah satu pinjaman modal yang bisa jadi pilihannya.
Sebelum memutuskan mengajukan pinjaman untuk usaha di Adapundi, Bayu sempat mempertimbangkan beberapa pinjaman lainnya, tapi dengan berbagai pertimbangan, Bayu pun memutuskan memilih Adapundi.
"...saat itu lagi butuh buat modal usaha, yang keinget Adapundi. Terus coba bandingin sama yang lain, tapi kayanya Adapundi lebih oke."
Bayu tertarik mengajukan pinjaman di Adapundi adalah karena Adapundi menawarkan pinjaman limit awal besar, di mana limit yang besar ini memang sangat ia butuhkan untuk pengembangan usahanya.
“Untuk limit sih lumayan… pendaftaran pertama lumayan dapet penawaran yang lebih besar,” jelas Bayu.
Bagi usaha yang sedang berkembang, nominal tersebut bisa membantu menutup kebutuhan awal produksi.
Tidak hanya merasa senang dengan limit awal yang besar, Bayu juga menilai proses pengajuan Adapundi cukup mudah. Menurutnya, setelah pengajuan dilakukan, proses persetujuan dan pencairan terasa cepat.
“Untuk peminjamannya juga cepat. Setelah pinjam langsung bisa ACC,” katanya.
Informasi yang dibutuhkan bisa ditemukan dengan praktis.
_“User experience-nya udah mantep sih. Jadi gampang untuk nyari informasi,” _katanya.
Bayu biasanya mencari informasi seperti tanggal jatuh tempo, jumlah cicilan, tagihan aktif, riwayat pinjaman, dan detail pembayaran. Menurutnya, tampilan aplikasi sudah cukup lengkap.
“Untuk mengakses ke semuanya udah mudah. Kayak ngelihat riwayat atau pembayaran juga tampilannya udah lengkap informasinya,” jelasnya.
Kecepatan dan kemudahan akses menjadi penting bagi pelaku usaha seperti Bayu. Dalam bisnis kuliner, peluang sering kali datang dalam waktu singkat, terutama ketika ada event atau pesanan besar yang membutuhkan persiapan segera.
Selain limit awal besar dan proses cepat, Bayu semakin yakin menggunakan Adapundi adalah karena sudah berizin dan diawasi OJK.
“Kayaknya Adapundi oke nih, karena udah berizin OJK kan. Jadi mungkin aman di situ,” kata Bayu.
Bagi Bayu, rasa aman menjadi pertimbangan penting. Apalagi dana yang diajukan akan digunakan untuk kebutuhan usaha, sehingga ia perlu memastikan platform yang digunakan memiliki kejelasan.
Ia juga menilai bahwa rekam jejak layanan memengaruhi rasa percaya pengguna.
“Ngaruh sih, itu menentukan terbukti aman, belum ada isu yang jelek mengenai itu,” ungkapnya.
Saat mengambil pinjaman, Bayu tidak hanya melihat jumlah dana yang bisa didapat. Ia juga mempertimbangkan tenor dan cicilan bulanan. Untuk kebutuhan Rumbai Production, Bayu memilih tenor sekitar sembilan bulan karena merasa cicilannya lebih ringan.
_“Saya tertariknya karena cicilannya lebih ringan… buat antisipasi takutnya nggak ada buat bayar,” _jelasnya.
Bayu memahami bahwa usaha baru memiliki risiko. Meski terlihat menjanjikan, hasilnya belum tentu langsung stabil. Karena itu, cicilan yang terlalu besar bisa menjadi beban.
“Karena baru buat ngedirin bisnis kan. Jadi belum tahu nih masih 50:50 bakal berhasil atau nggak,” katanya.
Pilihan tenor yang lebih panjang menjadi cara Bayu menjaga arus kas agar tetap aman. Ia ingin modal bisa digunakan untuk memutar usaha, sementara kewajiban pembayaran tetap berada dalam batas yang mampu ia kelola.
Perasaan puas Bayu terhadap pinjaman Adapundi membuatnya merekomendasikan Adapundi kepada teman dan orang terdekat. Awalnya, ia tertarik dengan program referral. Namun di luar itu, ia juga menyebut faktor keamanan dan limit sebagai alasan mengapa layanan ini bisa direkomendasikan.
“Pertama udah aman ternyata karena ada izin OJK. Terus yang kedua bisa dapet limit lumayan,” katanya.
Bayu juga bercerita bahwa ia pernah membantu seseorang yang sedang kesulitan karena pinjaman informal dengan bunga tinggi. Dalam situasi tersebut, ia mencoba menawarkan solusi yang menurutnya lebih jelas.
“Dia lagi kelilit utang sama bank keliling… yaudah saya tawarin,” cerita Bayu.
Pengalaman finansial Bayu tidak hanya soal dirinya sendiri. Ia juga melihat bagaimana akses ke layanan keuangan yang legal dan jelas dapat menjadi pertimbangan bagi orang lain yang sedang membutuhkan bantuan dana.
Kisah inspiratif Bayu menunjukkan bahwa pinjaman online dapat menjadi alat bantu ketika digunakan untuk kebutuhan yang jelas dan terukur. Dalam kasus Bayu, dana digunakan untuk mendukung Rumbai Production, mulai dari membeli bahan, menyiapkan alat produksi, membuat banner, hingga menangkap peluang.
Namun, Bayu juga memahami bahwa pinjaman tetap memiliki risiko. Ia memperhatikan bunga, tenor, cicilan, dan kemampuan bayar. Ia juga menyadari bahwa usaha tidak selalu berjalan pasti, sehingga pinjaman perlu digunakan secara hati-hati.
_“Yang ngedorong buat minjem kan karena emang ada kebutuhan yang harus diisi,” _katanya.
Pinjaman bukan untuk digunakan tanpa alasan, tetapi untuk menjawab kebutuhan yang jelas dan sudah dipertimbangkan.
Kamu juga bisa tonton kisah inspiratif Bayu di Youtube Adapundi