Sambut HUT ke-8, Adapundi gelar CSR #BeraniWujudkan Untuk Bumi di Muara Gembong, dengan menanam 888 mangrove, donasi perahu, dan bantuan UMKM Kebaya.
Adapundi menyelenggarakan kegiatan literasi dan inklusi keuangan di Universitas Udayana, Bali, guna meningkatkan pemahaman mahasiswa dan UMKM terhadap layanan keuangan digital yang aman dan bertanggung jawab.

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, sedangkan sumber daya seperti uang, waktu, dan tenaga jumlahnya terbatas. Tanpa pengaturan yang baik, seseorang dapat kesulitan membedakan kebutuhan yang benar-benar penting dengan keinginan sesaat sehingga pengeluaran menjadi kurang terkendali.
Oleh karena itu, memahami skala prioritas ekonomi menjadi langkah penting untuk mencapai tujuan keuangan secara lebih terarah, mengelola pengeluaran sesuai kebutuhan, serta membantu mencapai tujuan keuangan di masa depan.
Pengertian skala prioritas adalah cara menentukan urutan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingan atau tingkat urgensi sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal. Dalam ilmu ekonomi, skala prioritas membantu seseorang memilih kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu dibandingkan kebutuhan yang masih bisa ditunda.
Penerapan skala prioritas kebutuhan juga berkaitan erat dengan kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi agar kehidupan dapat berjalan dengan baik, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan.
Keinginan adalah hal yang sifatnya pelengkap atau memberikan kenyamanan, tetapi tidak selalu mendesak untuk dipenuhi.
Semakin baik seseorang memahami perbedaan keduanya, semakin mudah menentukan pilihan sesuai kondisi keuangan.
Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, prioritas berperan sebagai pedoman agar pengeluaran tidak dilakukan secara impulsif. Dengan demikian, seseorang dapat lebih fokus pada kebutuhan utama, mengurangi pemborosan, dan mengalokasikan dana untuk tujuan yang lebih bermanfaat.
Baca juga: Skala Prioritas: Dana Darurat atau Asuransi Dulu?
Skala prioritas keuangan membantu seseorang mengatur penggunaan uang berdasarkan kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dengan begitu, kondisi finansial dapat tetap terjaga meskipun pendapatan terbatas.
Contoh kebutuhan primer meliputi:
Makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Tempat tinggal yang layak sebagai kebutuhan dasar manusia.
Biaya kesehatan, termasuk pemeriksaan maupun pengobatan ketika sakit.
Pendidikan sebagai bekal meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan di masa depan.
Jika kebutuhan primer belum dipenuhi, pengeluaran untuk kebutuhan lain sebaiknya ditunda hingga kondisi keuangan memungkinkan.
Beberapa contoh skala prioritas pada kebutuhan sekunder antara lain:
Membeli peralatan elektronik yang menunjang pekerjaan atau belajar.
Mengganti kendaraan karena sudah tidak layak digunakan.
Melengkapi perabot rumah tangga yang memang dibutuhkan.
Mengikuti pelatihan atau kursus untuk meningkatkan keterampilan.
Meski bermanfaat, pemenuhannya tetap perlu disesuaikan dengan pendapatan dan kemampuan finansial agar tidak mengganggu kebutuhan utama.
Beberapa contoh kebutuhan tersier meliputi:
Membeli barang bermerek.
Liburan mewah ke luar negeri.
Mengoleksi produk hobi dengan harga tinggi.
Mengganti gadget meskipun perangkat lama masih berfungsi dengan baik.
Bukan berarti kebutuhan tersier tidak boleh dipenuhi. Namun, keputusan untuk membelinya perlu mempertimbangkan kondisi finansial agar tidak mengganggu tabungan, investasi, maupun dana untuk kebutuhan yang lebih mendesak.
Baca juga: Cara Membedakan Kebutuhan dan Keinginan dalam Perencanaan Keuangan agar Lebih Terkontrol
Menentukan urutan kebutuhan membantu seseorang menggunakan sumber daya secara lebih bijak dan menghindari keputusan yang kurang tepat. Skala prioritas juga membuat pengeluaran lebih terarah sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki tujuan yang jelas. Kebiasaan ini akan memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Seseorang dapat menentukan berapa besar dana yang dialokasikan untuk kebutuhan pokok, tabungan, maupun kebutuhan lainnya tanpa melebihi kemampuan finansial. Dengan pengelolaan yang baik, risiko kehabisan uang sebelum akhir bulan juga dapat diminimalkan karena setiap biaya telah direncanakan sejak awal.
Tanpa prioritas yang jelas, seseorang lebih mudah tergoda membeli barang hanya karena diskon atau mengikuti tren. Padahal, barang tersebut belum tentu benar-benar dibutuhkan.
Menyusun skala prioritas membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga keputusan membeli suatu produk didasarkan pada manfaat serta tingkat urgensinya, bukan dorongan sesaat.
Menentukan prioritas bukan hanya bermanfaat untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga membantu mempersiapkan masa depan. Sebagian pendapatan dapat dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, investasi, membuat usaha, maupun tujuan finansial lain tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari.
Jika kamu membutuhkan dana tambahan untuk mencapai tujuan finansial salah satunya membuka sebuah usaha, kamu dapat mengajukan pinjaman di Adapundi seperti yang dilakukan oleh Pak Fajar yang menjalankan usaha keluarganya dengan Adapundi.
Memiliki daftar prioritas bukan hanya membantu mengatur pengeluaran, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga memudahkan seseorang mencapai berbagai tujuan keuangan.
Beberapa manfaat yang dapat dirasakan antara lain:
Pengeluaran lebih sesuai dengan anggaran yang telah dibuat.
Penggunaan uang menjadi lebih disiplin.
Risiko pemborosan dapat ditekan.
Kondisi keuangan lebih stabil dari waktu ke waktu.
Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, skala prioritas membantu menentukan pilihan yang paling penting berdasarkan kondisi keuangan saat ini.
Melalui skala prioritas, dana dapat dialokasikan terlebih dahulu untuk kebutuhan yang bersifat mendesak sehingga risiko mengalami tekanan finansial dapat diminimalkan. Selain itu, perencanaan yang baik juga membantu menghadapi perubahan kondisi ekonomi tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Setiap orang umumnya memiliki target keuangan yang berbeda, seperti membeli rumah, mempersiapkan dana pendidikan anak, mengembangkan bisnis, atau menyiapkan dana pensiun. Semua tujuan tersebut akan lebih mudah dicapai apabila pengeluaran sehari-hari disusun berdasarkan prioritas.
Baca juga: Literasi Keuangan: Pengertian, Manfaat, Indikator, dan Cara Meningkatkannya
Urutan prioritas setiap orang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kondisi dan kebutuhan masing-masing. Faktor ekonomi, lingkungan, hingga tujuan hidup dapat memengaruhi keputusan dalam memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu, skala prioritas sebaiknya disusun berdasarkan kondisi nyata, bukan mengikuti kebiasaan orang lain.
Besarnya pendapatan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan skala prioritas ekonomi. Semakin besar penghasilan, semakin luas pula pilihan kebutuhan yang dapat dipenuhi. Sebaliknya, ketika pendapatan terbatas, seseorang perlu lebih selektif dalam menentukan pengeluaran.
Kebutuhan seseorang yang masih lajang tentu berbeda dengan pasangan yang telah menikah atau keluarga yang memiliki anak. Perbedaan tanggung jawab tersebut akan memengaruhi urutan prioritas dalam pengeluaran.
Risiko seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan mendesak lainnya dapat muncul kapan saja. Karena itu, skala prioritas perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kondisi darurat dengan menyediakan dana cadangan yang memadai.
Rencana jangka panjang juga menjadi faktor penting dalam menentukan prioritas. Seseorang yang memiliki target tertentu akan lebih mudah mengendalikan pengeluaran karena setiap keputusan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
](https://adapundi.onelink.me/cN17/em5uj56b)
Menyusun skala prioritas tidak harus rumit. Dengan langkah yang sederhana dan dilakukan secara konsisten, pengelolaan keuangan akan menjadi lebih mudah serta membantu menghindari pengeluaran yang kurang penting. Kuncinya adalah memahami kondisi finansial dan melakukan evaluasi secara berkala.
Langkah pertama adalah membuat daftar seluruh kebutuhan dan pengeluaran setiap bulan. Cara ini membantu mengetahui ke mana uang digunakan sehingga lebih mudah menemukan pengeluaran yang masih dapat dikurangi.
Setelah semua kebutuhan dicatat, kelompokkan berdasarkan tingkat urgensi agar lebih mudah menentukan mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
| Tingkat Prioritas | Contoh |
|---|---|
| Sangat penting | Makanan, tempat tinggal, kesehatan, listrik, air |
| Penting | Transportasi, internet, pendidikan, cicilan produktif |
| Bisa ditunda | Liburan, membeli barang baru, hiburan berlebihan, barang koleksi |
Pengelompokan seperti ini membuat keputusan finansial menjadi lebih objektif dan mengurangi pembelian yang didasarkan pada keinginan sesaat.
Beberapa tips yang dapat diterapkan yaitu:
Hindari memaksakan gaya hidup di luar kemampuan.
Tentukan batas maksimal pengeluaran setiap bulan.
Sisihkan dana untuk tabungan dan investasi sejak menerima penghasilan.
Tunda pembelian yang belum benar-benar dibutuhkan.
Dengan pendekatan ini, kondisi keuangan akan lebih stabil dan tujuan finansial dapat dicapai secara bertahap.
Lakukan evaluasi secara berkala, misalnya setiap bulan atau ketika terjadi perubahan besar dalam kehidupan. Melalui evaluasi, prioritas tetap relevan dengan kondisi saat ini sehingga pengelolaan keuangan menjadi lebih efektif.
Skala prioritas dapat diterapkan dalam berbagai kondisi agar keputusan keuangan lebih terarah. Dengan menentukan urutan kebutuhan secara tepat, seseorang dapat memenuhi kebutuhan utama sekaligus mempersiapkan masa depan tanpa mengorbankan kondisi finansial saat ini.
Sebagai contoh urutan prioritas:
Kebutuhan rutin, seperti makanan dan transportasi.
Tagihan bulanan, seperti listrik, air, internet, dan cicilan.
Tabungan serta dana darurat.
Hiburan atau kebutuhan gaya hidup apabila masih terdapat sisa anggaran.
Urutan ini membantu memastikan kebutuhan utama telah dipenuhi sebelum menggunakan uang untuk kebutuhan pelengkap.
Fokus utama sebaiknya diberikan pada:
Makanan dan kebutuhan pokok.
Tempat tinggal.
Biaya kesehatan.
Transportasi untuk bekerja.
Tagihan yang bersifat wajib.
Sementara itu, pembelian barang yang tidak mendesak dapat ditunda hingga kondisi keuangan membaik.
Beberapa alokasi yang dapat diprioritaskan antara lain:
Dana darurat untuk menghadapi kondisi tidak terduga.
Investasi sesuai tujuan dan profil risiko.
Dana pendidikan.
Dana membeli rumah atau kendaraan.
Modal untuk mengembangkan usaha atau bisnis.
Perencanaan seperti ini membantu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan target finansial di masa mendatang.
Kesalahan dalam menentukan urutan kebutuhan dapat membuat kondisi finansial menjadi kurang stabil. Contoh kesalahan yang sering terjadi:
Mengutamakan keinginan daripada kebutuhan
Tidak memiliki rencana pengeluaran
Mengabaikan dana cadangan
Mengikuti pola konsumsi orang lain
Tidak meninjau kondisi keuangan
Dengan memahami pengertian skala prioritas, mengenali faktor yang memengaruhinya, serta menerapkan penyusunan skala prioritas sesuai tingkat kepentingan, setiap orang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih bijak, mengelola pengeluaran dengan baik, dan mencapai tujuan keuangan di masa depan.
Adapundi hadir sebagai layanan pinjaman daring yang telah berizin dan diawasi OJK. Proses pengajuan dilakukan secara praktis tanpa jaminan hanya menggunakan KTP dan nomor HP. Adapundi menyediakan akses pendanaan yang mudah, cepat, serta transparan sehingga dapat menjadi solusi ketika membutuhkan dana sesuai kebutuhan dengan limit yang tinggi.
Download aplikasi Adapundi melalui Play Store atau App Store untuk mendapatkan solusi pendanaan yang membantu mendukung pengelolaan keuangan secara lebih bijak.
Referensi:
https://www.ruangguru.com/blog/skala-prioritas
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6927967/skala-prioritas-faktor-manfaat-dan-cara-menentukannya