
Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan literasi dan inklusi keuangan di Bali pada April lalu, Adapundi kembali menggelar kegiatan literasi keuangan di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Jumat, 22 Mei 2026. Kegiatan yang dihadiri oleh 100 lebih peserta ini mengusung tema "Duit Digital: Pintar Genggam Keuangan Bersama Pindar" sebagai upaya mendorong mahasiswa lebih bijak dalam mengelola keuangan digital.
Kegiatan literasi keuangan di Makassar ini menjadi penyelenggaraan literasi keuangan ke-28 yang dilakukan Adapundi sejak resmi hadir. Sebagai aplikasi pinjaman daring yang berizin dan diawasi OJK dan tergabung dalam AFPI, Adapundi menempatkan edukasi sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan, terutama bagi generasi muda sebagai generasi penerus.
Di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda agar mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak. Mahasiswa tidak hanya perlu mengetahui cara mengakses layanan keuangan, tetapi juga memahami manfaat, risiko, kewajiban, serta dampak jangka panjang dari setiap keputusan finansial.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2025 yang dirilis OJK bersama BPS, kelompok usia 18–25 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 73,22%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 89,96%. Data ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki tingkat akses keuangan yang tinggi, sehingga perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat mengenai pengelolaan keuangan dan penggunaan layanan digital secara bertanggung jawab.
Data ini semakin relevan bagi mahasiswa di Makassar. Berdasarkan penelitian terhadap mahasiswa STIE YPUP Makassar pada 2025, literasi keuangan digital, gaya hidup, dan pengaruh sosial berpengaruh signifikan terhadap minat penggunaan fintech lending. Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan generasi muda dalam menggunakan layanan keuangan digital tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan finansial, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan pola konsumsi.
Melalui kegiatan literasi keuangan di Universitas Hasanuddin Makassar, Adapundi memberikan edukasi mengenai cara cerdas mengelola keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami pentingnya perencanaan finansial sejak dini.
Apriliana Situmorang, Brand & Digital Marketing Manager Adapundi, menyampaikan bahwa pemahaman mengenai keuangan digital perlu terus diperbarui, khususnya oleh generasi muda yang aktif menggunakan layanan berbasis teknologi.
Sambut HUT ke-8, Adapundi gelar CSR #BeraniWujudkan Untuk Bumi di Muara Gembong, dengan menanam 888 mangrove, donasi perahu, dan bantuan UMKM Kebaya.
Adapundi menyelenggarakan kegiatan literasi dan inklusi keuangan di Universitas Udayana, Bali, guna meningkatkan pemahaman mahasiswa dan UMKM terhadap layanan keuangan digital yang aman dan bertanggung jawab.
Adapundi dan Bank DBS Indonesia meresmikan kerja sama loan channeling fase 2 untuk memperluas akses pendanaan digital yang aman. Baca selengkapnya.
“Sebagai generasi muda, kita perlu update dengan literasi keuangan karena itu bagian dari bagaimana kita mengatur perjalanan keuangan digital,” ujar Apriliana Situmorang.
Salah satu topik utama dalam kegiatan literasi keuangan ini adalah pemahaman mengenai kredit skoring. Materi tersebut membahas faktor-faktor yang memengaruhi kelayakan kredit, serta dampaknya terhadap masa depan keuangan seseorang.
Adapundi menekankan bahwa rekam jejak kredit bukan hanya berkaitan dengan akses pendanaan. Skor kredit juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan di masa depan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami pentingnya membayar kewajiban tepat waktu, menghindari penggunaan pinjaman secara berlebihan, serta menjaga reputasi finansial sejak dini.
Di dalam materi, Apriliana Situmorang menyampaikan bahwa menjaga skor kredit menjadi hal penting bagi mahasiswa, terutama karena mereka akan memasuki dunia kerja.
"Setelah ini kalian sebagai generasi muda akan masuk dunia kerja, dan perlu dipahami sekarang beberapa perusahaan mempertimbangkan skor kredit sebelum merektur karyawan". Jelas Apriliana Situmorang.
Selain membahas pengelolaan keuangan dan kredit skoring, kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai cara memilih layanan pinjaman daring yang baik. Mahasiswa diajak untuk memahami pentingnya menggunakan pinjaman daring legal OJK agar terhindar dari risiko layanan ilegal yang dapat merugikan pengguna.
Dalam sesi tanya jawab, Apriliana Situmorang turut memberikan edukasi mengenai prosedur penagihan pada pinjaman daring legal. Ia menjelaskan bahwa praktik penagihan pada platform legal telah diatur oleh OJK, sehingga pengguna perlu memahami hak dan kewajibannya sebelum mengajukan pendanaan.
Edukasi ini menjadi semakin relevan karena masih banyak masyarakat yang belum dapat membedakan layanan pinjaman daring legal dan ilegal. Masyarakat juga perlu memahami bahwa praktik penagihan pada pinjaman legal telah diatur dan perlu ditaati oleh setiap penyelenggara fintech.
Dalam kegiatan literasi ini, Adapundi juga memperkenalkan perannya dalam mendukung kebutuhan pendanaan masyarakat. Adapundi tidak hanya hadir untuk membantu kebutuhan pendanaan konsumtif yang bertanggung jawab, tetapi juga mendukung akses pendanaan bagi pelaku UMKM.
Dengan pemanfaatan yang tepat, layanan fintech dapat membantu masyarakat memperoleh akses keuangan yang lebih mudah, cepat, dan terukur. Namun, akses tersebut perlu diiringi dengan literasi keuangan yang memadai agar pengguna dapat memahami kapan perlu meminjam, berapa jumlah yang sesuai kemampuan, dan bagaimana mengatur pembayaran agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Adapundi memandang bahwa pertumbuhan industri pinjaman daring perlu ditopang oleh kualitas pengguna yang semakin baik. Karena itu, kegiatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam menekan risiko kredit sekaligus membangun perilaku finansial yang lebih sehat.
Kegiatan literasi keuangan ini mendapat respons positif dari mahasiswa Universitas Hasanuddin. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab, terutama saat membahas cara menjaga kredit skoring, memilih layanan pinjaman yang legal, serta memahami prosedur penagihan pada platform yang diawasi regulator.
Salah satu mahasiswa peserta kegiatan menyampaikan bahwa acara ini membantu memberikan pemahaman baru mengenai pengelolaan keuangan dan keamanan dalam memilih layanan pinjaman digital.
“Acara literasi ini sangat bermanfaat bagi saya, sehingga saya bisa tahu bagaimana mengatur keuangan dan membedakan pinjaman uang legal dan ilegal,” ujar Lusiana salah satu peserta.
Melalui kegiatan ini, Adapundi berharap mahasiswa dapat menjadi pengguna layanan keuangan digital yang lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Edukasi keuangan yang diberikan sejak dini dinilai dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat untuk masa depan.
Adapundi menilai bahwa penguatan tingkatan literasi keuangan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun ekosistem keuangan digital yang berkelanjutan. Semakin baik pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan, semakin besar pula peluang terciptanya keputusan finansial yang lebih rasional dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan literasi keuangan di Makassar, Adapundi tidak hanya memperluas akses terhadap layanan keuangan digital, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya menggunakan layanan tersebut secara aman dan sesuai kebutuhan.
Dengan semakin meningkatnya pemahaman mahasiswa mengenai literasi keuangan, kredit skoring, dan pinjaman daring legal OJK, Adapundi berharap generasi muda dapat menjadi bagian dari ekosistem keuangan digital yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.