
Adapundi gelar CSR 2026 “Pundi Kebaikan Ramadan” dengan salurkan bantuan bagi anak difabel di Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Komitmen inklusivitas sosial
Adapundi dan Bank DBS Indonesia meresmikan kerja sama loan channeling fase 2 untuk memperluas akses pendanaan digital yang aman. Baca selengkapnya.
Debt to income ratio atau rasio utang terhadap pendapatan adalah perbandingan antara total pembayaran utang bulanan kamu dengan pendapatan kotor bulanan. Metrik ini digunakan untuk mengukur kemampuan finansial dalam mengelola utang sebelum mengajukan pinjaman baru.
Semakin rendah debt to income ratio ini, semakin baik kondisi keuangan kamu di mata lender. Di era pinjaman digital saat ini, debt to income ratio menjadi salah satu faktor penentu utama apakah pengajuan dana kamu akan disetujui atau ditolak.
Baca juga: Rasio Utang: Pengertian, Cara Hitung, dan Pentingnya Mengelola agar Keuangan Tetap Sehat
Rasio utang terhadap pendapatan menjadi salah satu indikator utama yang dinilai platform pendanaan selain kolektibilitas kredit saat memproses aplikasi pinjaman. Rasio yang sehat menunjukkan kamu memiliki ruang keuangan yang cukup untuk kewajiban baru tanpa memberatkan arus kas.
Platform pendanaan tidak hanya melihat riwayat kredit, tetapi juga seberapa besar porsi pendapatan yang sudah digunakan untuk membayar utang existing.
Debt to income ratio memberikan gambaran objektif tentang arus kas bulanan. Misalnya, jika seseorang menghabiskan 60% pendapatannya hanya untuk cicilan, lender akan ragu memberikan pinjaman tambahan karena risiko gagal bayar meningkat.
Sebagian besar lembaga keuangan dan platform fintech memiliki ambang batas debt to income ratio yang jelas. Rasio yang terlalu tinggi sering menjadi alasan utama penolakan aplikasi pinjaman, bahkan ketika skor kredit cukup baik.
Dengan debt to income ratio yang rendah, peluang persetujuan menjadi jauh lebih tinggi dan limit pinjaman yang ditawarkan pun bisa lebih besar.
Memantau debt to income ratio sejak dini dapat mencegah situasi di mana cicilan bulanan melebihi kemampuan finansial. Hal ini menghindarkan peminjam dari stres keuangan, penalti keterlambatan, hingga dampak buruk pada skor kredit jangka panjang.
Debt to income ratio membantu kamu menyusun rencana keuangan yang realistis, baik untuk kebutuhan bisnis, pendidikan, maupun konsumsi. Dengan memahami rasio ini, kamu dapat menyeimbangkan antara keinginan meminjam dan menjaga kestabilan keuangan keluarga di masa depan.
Perhitungan debt to income ratio sebenarnya sederhana dan bisa dilakukan sendiri di rumah. kamu hanya perlu mengumpulkan data utang bulanan serta pendapatan kotor, lalu menerapkan rumus dasar.
Ikuti langkah-langkah berikut agar hasilnya akurat dan bisa langsung digunakan untuk evaluasi diri.
Mulailah dengan mencatat semua jenis cicilan yang wajib dibayar setiap bulan. Contohnya meliputi cicilan KPR, kredit kendaraan, minimum payment kartu kredit, pinjaman online, cicilan multiguna, hingga utang informal jika ada. Jangan lupa memasukkan cicilan yang akan segera jatuh tempo dalam 1-3 bulan ke depan.
Jumlahkan seluruh penghasilan sebelum dipotong pajak, BPJS, atau iuran lainnya. Termasuk gaji pokok, tunjangan tetap, komisi penjualan, penghasilan dari bisnis sampingan, dan passive income seperti sewa properti.
Gunakan rata-rata 3 bulan terakhir jika penghasilan kamu fluktuatif.
Rumus Debt to Income Ratio (DTI):
DTI = (Total Cicilan Bulanan ÷ Total Pendapatan Kotor Bulanan) × 100
Contoh Perhitungan Debt to Income Ratio:
| Total Cicilan Bulanan | Pendapatan Kotor Bulanan | Debt to Income Ratio | Kategori |
|---|---|---|---|
| Rp 3.000.000 | Rp 12.000.000 | 25% | Sangat Baik |
| Rp 5.500.000 | Rp 15.000.000 | 36.7% | Cukup Tinggi |
| Rp 9.000.000 | Rp 16.000.000 | 56.25% | Berisiko Tinggi |
Catatan: Tabel di atas hanya sebagai contoh
Setiap lembaga keuangan memiliki standar tersendiri, namun ada patokan umum yang bisa dijadikan acuan. Mengetahui posisi debt to income ratio kamu saat ini akan membantu mempersiapkan pengajuan pinjaman yang lebih realistis dan sesuai kemampuan.
Banyak hal bisa membuat nilai debt to income ratio naik atau turun dari waktu ke waktu. Dengan mengenali faktor-faktor ini, kamu bisa mengambil langkah proaktif untuk menjaga atau memperbaiki kondisi keuangan sebelum mengajukan pinjaman.
1. Jumlah dan Jenis Utang yang Sedang Dimiliki
Utang berbunga tinggi seperti kartu kredit dan pinjaman online akan lebih cepat menaikkan debt to income ratio dibandingkan utang berjangka panjang dengan bunga rendah seperti KPR.
2. Besaran serta Stabilitas Sumber Pendapatan
Penghasilan yang tidak stabil (misalnya pekerja freelance) dapat membuat debt to income ratio terlihat buruk meskipun nominal cicilan tidak terlalu besar.
3. Pengeluaran Rutin Lainnya di Luar Cicilan Utang
Meski tidak masuk hitungan langsung, biaya hidup tinggi seperti kontrakan, pendidikan anak, dan transportasi dapat mengurangi sisa pendapatan yang tersedia.
4. Perubahan Suku Bunga atau Penambahan Utang Baru
Kenaikan suku bunga BI atau penambahan pinjaman impulsif akan langsung meningkatkan total cicilan bulanan dan memperburuk debt to income ratio.
Jika debt to income ratio kamu masih di atas ambang ideal, ada beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan secara bertahap. Konsistensi dalam menjalankan tips ini akan membantu meningkatkan kesehatan keuangan dan peluang persetujuan pinjaman di masa depan.
1. Lunasi Utang Kecil atau Berbunga Tinggi Terlebih Dahulu
Terapkan metode snowball atau avalanche dengan melunasi utang berbunga tinggi terlebih dahulu untuk mengurangi beban cicilan secara signifikan.
2. Cari Peluang untuk Meningkatkan Pendapatan
Mulai bisnis sampingan, menjual jasa freelance, atau mengejar promosi kerja dapat meningkatkan denominator dalam rumus debt to income ratio.
3. Kurangi Pengeluaran yang Tidak Esensial
Lakukan audit pengeluaran selama 1 bulan dan potong biaya langganan, makan di luar, serta hiburan yang berlebihan.
4. Pertimbangkan Refinancing atau Konsolidasi Utang jika Memungkinkan
Menggabungkan beberapa utang menjadi satu dengan bunga lebih rendah dapat menurunkan cicilan bulanan secara drastis.
5. Susun Anggaran Bulanan dan Patuhi dengan Disiplin
Gunakan aturan 50/30/20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan & utang) dan pantau secara rutin menggunakan aplikasi keuangan.
Memahami dan mengelola debt to income ratio adalah langkah awal yang bijak sebelum mengambil keputusan finansial besar. Dengan persiapan yang matang, proses pengajuan pinjaman bisa berjalan lebih lancar dan sesuai dengan kemampuan finansial kamu.
Adapundi hadir sebagai platform pendanaan digital yang memberikan kemudahan akses dana melalui aplikasi dengan proses yang praktis dan transparan. Sebelum mengajukan pinjaman, pastikan kamu sudah memahami debt to income ratio agar bisa menentukan jumlah yang sesuai dengan kemampuan finansial.
Jika sudah, langsung ajukan pinjaman uang cepat cair yang punya tenor fleksibel serta bunga kompetitif. Rasakan kemudahan mendapatkan pinjaman yang akan membantu kamu di sini.
Download aplikasi Adapundi sekarang di Play Store atau App Store, cek limit kamu, dan ajukan akses dana dengan bijak sesuai kebutuhan.
Referensi:
https://www.consumerfinance.gov/ask-cfpb/what-is-a-debt-to-income-ratio-en-1791/
https://www.investopedia.com/terms/d/dti.asp