
Dulu, dengan gaji Rp5 juta, kamu masih bisa menyisihkan uang untuk ditabung. Setelah penghasilan naik menjadi Rp7 juta, ternyata jumlah tabungan tidak banyak berubah. Bahkan, terkadang uang sudah menipis sebelum tanggal gajian berikutnya.
Kalau diperhatikan, bisa jadi ada beberapa kebiasaan yang berubah. Sekarang kamu lebih sering pesan makanan, nongkrong saat akhir pekan, atau membeli barang yang sebelumnya terasa terlalu mahal.
Tanpa disadari, pengeluaran ikut naik mengikuti penghasilan. Kebiasaan seperti ini dikenal dengan istilah lifestyle inflation.
Lifestyle inflation adalah kondisi ketika pengeluaran seseorang meningkat seiring bertambahnya penghasilan. Akibatnya, uang tambahan yang seharusnya bisa digunakan untuk menabung atau mencapai tujuan keuangan justru banyak habis untuk memenuhi gaya hidup.
Tentu tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja sendiri. Namun, kalau setiap kenaikan gaji selalu diikuti kenaikan pengeluaran, kapan tabunganmu bisa bertambah?
Yuk, kenali lebih jauh apa itu lifestyle inflation, contoh kebiasaannya, dan cara mengatasinya.
Apa Itu Lifestyle Inflation?
Lifestyle inflation adalah kebiasaan meningkatkan pengeluaran atau standar hidup ketika penghasilan bertambah. Istilah ini juga dikenal sebagai lifestyle creep.
Menurut Investopedia, lifestyle inflation terjadi ketika seseorang mulai mengeluarkan lebih banyak uang seiring meningkatnya pendapatan. Akibatnya, kenaikan penghasilan tidak selalu membuat kondisi keuangannya menjadi lebih baik.
Contohnya, saat gaji masih Rp5 juta, kamu terbiasa membawa bekal ke kantor dan membatasi pengeluaran untuk hiburan.
Setelah gaji naik, kamu mulai lebih sering membeli makan siang, berlangganan beberapa aplikasi, hingga mengambil cicilan gadget baru.
Awalnya mungkin terasa biasa saja karena penghasilan sekarang memang lebih besar. Namun, setelah dihitung, ternyata hampir seluruh tambahan gaji sudah digunakan untuk berbagai pengeluaran tersebut.
Inilah yang membuat lifestyle inflation sering tidak disadari. Perubahannya tidak selalu terjadi sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi kebiasaan.
Apa Bedanya Lifestyle Inflation dan Inflasi?
Meski sama-sama menggunakan istilah inflasi, lifestyle inflation berbeda dengan inflasi yang biasa dibahas dalam berita ekonomi.
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Sementara itu, lifestyle inflation berkaitan dengan meningkatnya pengeluaran karena seseorang mengubah kebiasaan atau standar hidupnya.
Agar lebih mudah dipahami, perhatikan perbedaannya berikut ini.
| Lifestyle Inflation | Inflasi |
|---|---|
| Pengeluaran naik karena perubahan gaya hidup | Pengeluaran bisa naik karena harga barang dan jasa meningkat |
| Sering terjadi ketika penghasilan bertambah | Bisa terjadi meskipun penghasilan tidak berubah |
| Contohnya lebih sering makan di restoran mahal | Contohnya harga beras dan minyak goreng meningkat |
| Sebagian besar keputusan pengeluaran bisa dikendalikan | Kenaikan harga pasar tidak bisa dikendalikan secara langsung oleh individu |
Misalnya, dulu kamu biasa membeli makan siang seharga Rp25.000. Karena harga bahan makanan naik, sekarang makanan yang sama dijual Rp30.000. Ini merupakan contoh dampak inflasi harga.
Namun, kalau setelah naik gaji kamu mulai memilih makan siang Rp80.000 setiap hari karena merasa sudah mampu, kebiasaan tersebut bisa menjadi contoh lifestyle inflation.
Perbedaannya terletak pada alasan pengeluaran bertambah. Apakah karena harga kebutuhan memang naik, atau karena kamu mulai terbiasa mengeluarkan lebih banyak uang?
Apa Penyebab Lifestyle Inflation?
Lifestyle inflation tidak selalu terjadi karena seseorang sengaja ingin hidup mewah. Terkadang, kebiasaan sederhana yang dianggap wajar justru membuat pengeluaran terus bertambah.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi.
1. Merasa Lebih Bebas Berbelanja Setelah Naik Gaji
Ketika penghasilan meningkat, biasanya muncul perasaan bahwa kamu punya lebih banyak uang untuk dibelanjakan.
Barang yang dulu harus dipikirkan berkali-kali sebelum dibeli sekarang terasa lebih terjangkau. Kamu juga mungkin mulai berpikir, "Gaji sudah naik, masa masih harus hemat seperti dulu?"
Pikiran seperti ini sebenarnya wajar. Namun, kalau setiap tambahan penghasilan langsung digunakan untuk belanja, jumlah uang yang bisa ditabung tidak akan banyak berubah.
2. Terbiasa dengan Gaya Hidup yang Lebih Mahal
Pernah membeli sesuatu sebagai hadiah untuk diri sendiri, lalu lama-lama justru menjadi kebiasaan?
Misalnya, awalnya kamu hanya membeli kopi seharga Rp35.000 saat akhir pekan. Setelah gaji naik, kamu mulai membelinya hampir setiap hari sebelum bekerja.
Satu kali pembelian mungkin tidak terasa mahal. Namun, kalau dilakukan selama 20 hari kerja, pengeluarannya bisa mencapai Rp700.000 per bulan.
Hal-hal kecil seperti inilah yang sering membuat pengeluaran meningkat tanpa disadari.
3. Terpengaruh Gaya Hidup Orang Lain
Melihat teman membeli HP baru, liburan ke luar negeri, atau mencoba restoran yang sedang viral terkadang membuat kita ingin melakukan hal yang sama.
Apalagi sekarang banyak aktivitas tersebut dibagikan melalui media sosial.
Masalahnya, kita tidak selalu tahu bagaimana kondisi keuangan orang lain. Bisa saja mereka memang sudah menyiapkan anggarannya sejak lama, sementara kita justru harus mengorbankan tabungan untuk mengikuti gaya hidup tersebut.
4. Terlalu Sering Memberi Self-Reward
Setelah bekerja keras, membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri tentu boleh dilakukan.
Namun, coba perhatikan apakah kamu terlalu sering menggunakan alasan self-reward untuk berbelanja.
Misalnya, setiap selesai menghadapi pekerjaan yang melelahkan, kamu membeli makanan mahal. Saat menerima bonus, langsung membeli gadget baru. Ketika gaji naik, mulai mengambil cicilan barang yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan.
Kalau dilakukan terus-menerus, self-reward bisa berubah menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar.
Baca Juga: Menabung Gaji Pertama: Awal Cerdas Bangun Masa Depan
5. Menambah Cicilan karena Merasa Penghasilan Sudah Cukup
Kenaikan penghasilan terkadang membuat seseorang merasa lebih mampu mengambil cicilan baru.
Awalnya mungkin hanya cicilan HP. Beberapa bulan kemudian, ditambah cicilan kendaraan atau barang elektronik lainnya.
Meski masing-masing cicilan terlihat masih terjangkau, jumlahnya tetap perlu dihitung secara keseluruhan.
Jangan sampai penghasilan bertambah, tetapi uang yang tersisa justru semakin sedikit karena terlalu banyak kewajiban bulanan.
Apa Saja Ciri-Ciri Lifestyle Inflation?
Tidak semua pengeluaran yang meningkat berarti kamu mengalami lifestyle inflation. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi alasan untuk mulai mengevaluasi kebiasaan keuanganmu.
1. Gaji Naik, tetapi Tabungan Tidak Bertambah
Coba bandingkan penghasilan dan tabunganmu sekarang dengan satu atau dua tahun lalu.
Jika penghasilan sudah naik cukup banyak tetapi uang yang ditabung masih sama, ada baiknya kamu memeriksa ke mana tambahan penghasilan tersebut digunakan.
2. Semakin Sering Membeli Barang yang Tidak Direncanakan
Dulu kamu mungkin harus menabung beberapa bulan sebelum membeli barang tertentu.
Sekarang, karena merasa memiliki penghasilan lebih besar, keputusan membeli barang sering dilakukan tanpa banyak pertimbangan.
Apalagi jika barang tersebut sebenarnya belum dibutuhkan.
3. Pengeluaran untuk Hiburan Semakin Besar
Makan di luar, nongkrong, menonton konser, atau liburan memang bisa menjadi cara menikmati waktu luang.
Namun, kalau anggarannya terus bertambah setiap bulan hingga mengurangi tabungan, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan.
4. Banyak Pengeluaran Bulanan yang Sulit Dikurangi
Mulai dari langganan aplikasi, biaya keanggotaan, cicilan gadget, hingga layanan premium lainnya.
Awalnya, setiap pengeluaran terlihat kecil. Namun, setelah semuanya dijumlahkan, ternyata cukup banyak uang yang harus dikeluarkan setiap bulan.
5. Tetap Kehabisan Uang Sebelum Gajian
Salah satu tanda yang cukup terasa adalah ketika penghasilan sudah meningkat, tetapi kamu masih sering kehabisan uang menjelang tanggal gajian.
Penyebabnya tentu bisa bermacam-macam, termasuk kenaikan harga kebutuhan atau bertambahnya tanggungan keluarga.
Namun, jika sebagian besar uang habis untuk pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi, lifestyle inflation mungkin ikut berperan.
Contoh Lifestyle Inflation dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan kamu bekerja dengan penghasilan Rp6 juta per bulan.
Saat itu, kamu terbiasa mengatur pengeluaran sebagai berikut:
| Pos Pengeluaran | Sebelum Naik Gaji |
|---|---|
| Penghasilan | Rp6.000.000 |
| Kebutuhan rutin | Rp3.500.000 |
| Hiburan dan gaya hidup | Rp1.000.000 |
| Tabungan | Rp1.500.000 |
Beberapa waktu kemudian, kamu mendapatkan kenaikan gaji menjadi Rp8 juta.
Karena merasa memiliki uang lebih banyak, kamu mulai lebih sering makan di luar, menambah layanan berlangganan, dan membeli barang untuk kebutuhan pribadi.
Akhirnya, anggaran bulanan berubah menjadi:
| Pos Pengeluaran | Setelah Naik Gaji |
|---|---|
| Penghasilan | Rp8.000.000 |
| Kebutuhan rutin | Rp3.800.000 |
| Hiburan dan gaya hidup | Rp2.700.000 |
| Tabungan | Rp1.500.000 |
Dari contoh tersebut, penghasilan meningkat Rp2 juta, tetapi tabungan tetap Rp1,5 juta.
Artinya, seluruh tambahan penghasilan digunakan untuk meningkatkan pengeluaran.
Padahal, jika sebagian kenaikan gaji dialokasikan untuk menabung, kamu bisa memiliki uang lebih banyak untuk mencapai tujuan keuangan.
Contoh ini bukan berarti pengeluaran untuk hiburan harus selalu dikurangi. Justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membagi tambahan penghasilan agar kamu tetap bisa menikmati hidup sekaligus mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Apakah Lifestyle Inflation Selalu Buruk?
Tidak, lifestyle inflation tidak selalu buruk selama peningkatan pengeluaran masih sesuai kemampuan keuangan.
Misalnya, setelah mendapatkan kenaikan gaji, kamu memutuskan pindah ke tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantor.
Biaya sewanya memang lebih mahal, tetapi kamu bisa menghemat waktu perjalanan, mengurangi kelelahan, dan memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.
Begitu juga ketika kamu menggunakan tambahan penghasilan untuk makanan yang lebih bergizi, pendidikan, atau kebutuhan kesehatan. Pengeluaran seperti ini bisa memberikan manfaat yang sepadan dengan biayanya.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika pengeluaran meningkat hanya karena merasa sudah mampu membeli lebih banyak barang, bukan karena benar-benar membutuhkan atau mendapatkan manfaatnya.
Jadi, bukan berarti setelah naik gaji kamu harus mempertahankan gaya hidup yang sama persis seperti sebelumnya.
Kamu tetap boleh menikmati hasil kerja, asalkan tabungan, dana darurat, dan kewajiban keuangan tidak ikut terabaikan.
Apa Dampak Lifestyle Inflation terhadap Keuangan?
Jika dibiarkan, lifestyle inflation bisa membuat seseorang sulit merasakan manfaat dari kenaikan penghasilannya.
Berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi.
1. Tabungan Sulit Berkembang
Ketika sebagian besar tambahan penghasilan langsung digunakan untuk berbelanja, jumlah uang yang bisa ditabung menjadi terbatas.
Akibatnya, meskipun penghasilan semakin besar, tabungan belum tentu bertambah.
2. Tujuan Keuangan Semakin Sulit Dicapai
Misalnya, kamu memiliki rencana mengumpulkan uang muka rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, atau membangun usaha.
Jika pengeluaran terus meningkat, uang yang bisa dialokasikan untuk tujuan tersebut menjadi lebih sedikit.
Alhasil, kamu mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan dana yang diperlukan.
3. Lebih Sulit Menyiapkan Dana Darurat
Pengeluaran tidak terduga bisa muncul kapan saja, mulai dari kendaraan rusak, kehilangan pekerjaan, hingga kebutuhan keluarga yang mendesak.
Tanpa dana darurat yang cukup, kondisi tersebut bisa mengganggu anggaran bulanan.
Karena itu, sebagian kenaikan penghasilan sebaiknya juga digunakan untuk memperkuat dana darurat.
4. Cicilan Semakin Banyak
Meningkatnya pendapatan terkadang membuat seseorang lebih berani menambah cicilan.
Masalah muncul jika terlalu banyak penghasilan yang sudah dialokasikan untuk membayar kewajiban setiap bulan.
Akibatnya, ruang untuk menabung atau menghadapi kebutuhan mendadak semakin terbatas.
5. Merasa Gaji Tidak Pernah Cukup
Pernah merasa penghasilan saat ini sudah jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu, tetapi tetap sulit menyisihkan uang?
Hal ini bisa terjadi karena standar hidup terus meningkat mengikuti pendapatan.
Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan lain yang membutuhkan biaya lebih besar.
Jika tidak memiliki batas pengeluaran yang jelas, kamu bisa terus merasa membutuhkan penghasilan tambahan meskipun sebenarnya sudah mengalami kenaikan gaji.
Baca Juga: Cara Hitung Tabel Dana Darurat Berdasarkan Penghasilan
Bagaimana Cara Mengatasi Lifestyle Inflation?
Mengatasi inflasi gaya hidup bukan berarti kamu harus berhenti nongkrong, liburan, atau membeli barang yang disukai.
Kuncinya adalah mengatur pengeluaran supaya tambahan penghasilan tidak selalu habis untuk gaya hidup.
Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
1. Sisihkan Tambahan Gaji untuk Tabungan
Setiap mendapat kenaikan gaji, coba tentukan terlebih dahulu berapa uang tambahan yang ingin ditabung.
Misalnya, gajimu naik Rp1 juta per bulan.
Daripada langsung menghabiskan semuanya, kamu bisa menyisihkan Rp600.000 untuk tabungan dan menggunakan Rp400.000 sisanya untuk kebutuhan atau keinginan pribadi.
Pembagian tersebut hanya contoh. Jumlahnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masing-masing.
Dengan kebiasaan ini, kamu tetap bisa menikmati kenaikan gaji tanpa mengabaikan tujuan keuangan.
2. Buat Anggaran Baru Setelah Naik Gaji
Jangan menunggu sampai pengeluaran meningkat baru mulai mengatur anggaran.
Saat menerima kenaikan penghasilan, coba evaluasi kembali pengeluaran bulanan. Cobalah lihat berapa uang yang digunakan untuk kebutuhan pokok, cicilan, tabungan, dan hiburan.
Dari situ, kamu bisa menentukan apakah ada pengeluaran yang perlu dibatasi atau apakah ada bagian penghasilan yang bisa dialokasikan lebih banyak untuk tabungan.
3. Pikirkan Manfaatnya Sebelum Membeli Sesuatu
Sebelum membeli barang yang harganya cukup besar, coba beri waktu untuk mempertimbangkan apakah kamu benar-benar membutuhkannya.
Misalnya, ketika ingin mengganti HP, tanyakan apakah perangkat yang sekarang sudah tidak mampu mendukung aktivitas sehari-hari.
Kalau masih berfungsi dengan baik, mungkin pembelian tersebut bisa ditunda.
Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi pengeluaran yang muncul hanya karena keinginan sesaat.
4. Evaluasi Pengeluaran Bulanan yang Jarang Digunakan
Coba cek kembali semua langganan dan layanan yang kamu bayar setiap bulan.
Apakah semua aplikasi masih digunakan? Apakah membership yang dibayar setiap bulan benar-benar dimanfaatkan?
Kalau ada layanan yang sudah jarang dipakai, pertimbangkan untuk menghentikan langganannya. Uang yang sebelumnya digunakan untuk biaya tersebut bisa dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih penting.
5. Jangan Terburu-buru Menambah Cicilan
Mendapat kenaikan gaji bukan berarti kamu harus langsung mengambil cicilan baru.
Sebelum membeli barang dengan sistem cicilan atau mengajukan pinjaman, pastikan kamu sudah menghitung kemampuan membayarnya.
Perhatikan jumlah cicilan yang sudah berjalan, kebutuhan rutin, serta dana yang perlu disisihkan untuk tabungan dan pengeluaran tidak terduga.
Jangan hanya melihat apakah cicilan bulanannya terasa kecil. Perhatikan juga total biaya yang harus dibayar sampai kewajiban selesai.
6. Bangun Dana Darurat Secara Bertahap
Kalau selama ini sulit menyisihkan uang untuk dana darurat, kenaikan penghasilan bisa menjadi kesempatan untuk memulainya.
Tidak harus langsung dalam jumlah besar.
Kamu bisa menyisihkan uang secara rutin setiap bulan dan menambah jumlahnya ketika kondisi keuangan memungkinkan.
Dengan begitu, kamu memiliki cadangan dana ketika menghadapi kebutuhan mendadak.
7. Tentukan Tujuan Keuangan yang Ingin Dicapai
Menabung tanpa tujuan terkadang membuat seseorang lebih mudah tergoda menggunakan uangnya untuk kebutuhan lain.
Coba tentukan hal yang ingin kamu capai dalam beberapa tahun ke depan.
Misalnya, membeli rumah, menyiapkan biaya pendidikan, mengumpulkan modal usaha, atau merencanakan liburan.
Setelah memiliki tujuan, tentukan berapa uang yang perlu disisihkan setiap bulan.
Cara ini bisa membantu kamu lebih mudah menentukan pengeluaran mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang masih bisa ditunda.
Kelola Gaya Hidup dan Pinjaman Sesuai Kemampuan Keuangan
Lifestyle inflation bisa terjadi tanpa disadari, terutama ketika penghasilan mulai meningkat. Pengeluaran yang dulu terasa mahal perlahan menjadi kebiasaan, sementara jumlah tabungan tidak banyak berubah.
Karena itu, setiap mendapat tambahan penghasilan, coba evaluasi kembali cara kamu menggunakan uang. Tidak ada salahnya meningkatkan kualitas hidup, tetapi pastikan kebutuhan utama, tabungan, dan kewajiban bulanan tetap terpenuhi.
Hal yang sama juga berlaku ketika kamu sedang mempertimbangkan pinjaman.
Jika membutuhkan dana tambahan untuk keperluan yang sudah direncanakan, kamu bisa mempertimbangkan layanan pinjaman daring dari Adapundi, yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Adapundi adalah salah satu pinjaman daring dengan limit tinggi tenor hingga 12 bulan. Proses pengajuan tanpa proses dokumen yang panjang, cukup KTP dan nomer HP, jika pinjaman disetujui maka dana akan cepat masuk langsung ke rekening.
Download aplikasi Adapundi di PlayStore dan AppSore gratis, cek limitmu!
Namun, sebelum mengajukan pinjaman, pastikan kamu sudah memahami bunga, biaya, total pembayaran, serta kemampuan membayar cicilannya.
Ingat, tujuan mengatur keuangan bukan hanya agar kamu bisa membeli lebih banyak barang ketika gaji naik, tetapi juga supaya kondisi keuangan tetap terjaga untuk kebutuhan sekarang dan masa depan.
Referensi
Investopedia — Lifestyle Inflation: What It Is, How It Works, and Examples
Novelty Wealth — Guide on Lifestyle Inflation

